Senin, 02 April 2012

BBM OOH BBM???

KENAIKAN BBM BUKAN MASALAH HARGA, TAPI INI BISNIS NEOLIBERALISME

Bangsa ini besar lahir dari keringat dan darah para pejuang yang hingga kini tak menuntut apapun, bahkan ingin dihargai pun perjuangannya, tidak. Mereka tak sempat berpesan bahwa mereka menginginkan sesuatu. Tapi lubuk hati terdalam kita perlu menyadari dengan tulus, bahwa mereka mengharapkan kita sebagai penerus bangsa yang dimerdekakan oleh mereka kita patut menjalankan dan mengisi kemerdekaan sesuai apa yang kita raih dari mereka. Bangsa ini memang pantas untuk terus diperjuangkan sebagai bangsa yang besar dan mandiri. Namun, sangat menjadi pertimbangan jika kebesaran bangsa ini tergetar hanya dengan Bahan Bakar Minyak (BBM). Apapun yang menjadi apologia dari para pejabat negeri ini, namun fakta berteriak bahwa rakyat semakin merasa menderita dengan sorotan BBM sebagai tumpu bangsa besar ini. Alangkah lucunya negeri ini jika para pejabat berkelit menyelamatkan APBN hanya bertumpu pada titik BBM. Bangsa ini kaya raya bukan karena Minyak, tapi bangsa ini kayak arena perjuangan para rakyatnya untuk tulus memberikan bangsa yang merdeka ini. Bangsa ini punya segudang kekayaan yang menggiurkan, namun pemerintah seperti bertindak sebagai manusia yang pengecut yang hanya berwawasan pada minyak sebagai kekayan bangsa ini, memalukan.
Mencermati kenaikan harga BBM yang kian marak diperbincangkan oleh para kalangan mahasiswa, buruh, tani, pelacur, gembel, bahkan rakyat yang paling hina di kalanga masyarakat memang menjadi sosok yang tajam sebagai tindakan murahan dari para pemangku kebijakan negeri ini. Kenaikan BBM dari jarak terdahulu tidak pernah diterima dengan layak di hati para rakyat luas. Ini bukan masalah kenaikan harga, tapi kotornya racun perdagangan bebas yang menjadi tuhan para neoliberalis.
Dalih pemerintah saat ini menaikkan harga BBM hanya karena untuk menyelamatkan APBN yang kebobolan karena subsidi BBM, menjadi pertanyaan yang meggalau adalah mengapa hanya BBM yang menjadi sorotan dalam APBN?, kenapa SDA lain tidak pernah menjadi perbincangan. Ada apa dengan bangsa yang mulia ini? Kenapa para pejabat menjadi buta dan tuli dengan eksploitasi energy yang sudah diluar batas kewajaran. Maka jika rakyat turun ke jalan untuk menolak kenaikan harga BBM jangan lagi kita menilai sebagai kekhawatiran akan mahalnya BBM, akan tetapi harus dimaknai sebagai siapkah Presiden negeri ini turun dari kursinya sebagai pemimpin Negara. Rasionalisasinya bahwa pemimpin bangsa ini bukan lagi berjuang untuk rakyat yang pernah dianugerahkan kemerdekaan oleh para pahlawan yang tulus, tapi telah memerang rakyat dan menumpahkan darah rakyatnya sendiri untuk kepentingan bisnis pada lingkaran iblis neoliberalisme. Bukan tanpa sebab presiden negeri ini menaikkan harga BBM, tapi ini merupakan ancaman nyata dari pihak luar untuk membuka peluang bisnis lebih bebas.
Berangkat dari beberapa analisis di atas, HMI Komisariat Tarbiyah, HMI Komisariat Fakultas Psikologi bekerjasama dengan Lisuma Indonesia mencoba membuka perbincangan hangat mengenai kenaikan harga BBM dengan tema “Dilema Subsidi BBM dan Harapan Energi Terbarukan” pada hari Rabu, 28 Maret 2012 di Pusdiklat Kopertais Ciputat. Perbincangan ini diharapkan memberikan stimulus bagi para akyat Indonesia untuk menilai secara cermat tentang agenda busuk kenaikan BBM yang jelas jauh dari harapan rakyat. Indonesia harus segera mewujudkan kemandirian energy untuk kemaslahatan dan kesejahteraan rakyat. Hal tersebut yang akan membawa dampak positif dari terelenggaranya kemerdekaan bangsa yang berdaulat dan menyadari demokrasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar