Pentingnya Kejujuran
Ketidakjujuran telah menjadi masalah yang sangat mengkhawatirkan di negeri ini, bahkan meracuni anak-anak. Padahal anak-anak di jenjang pendidikan dasar sebenarnya menjadi harapan untuk memperbaiki masa depan bangsa Indonesia yang kini sedang diterpa krisis moral dan karakter.
Untuk memperbaiki moral dan karakter bangsa ini, sudah saatnya kejujuran berperan penting menjadi budaya yang ditanamkan sejak dini. Demikian disampaikan pakar pendidikan Arief Rahman di Jakarta, Rabu (15/6). Ia menanggapi kasus terungkapnya kecurangan Ujian Nasional di SDN Gadel II Surabaya. Menurutnya sekolah semestinya bukan hanya sekedar tempat transfer ilmu serta mengejar target kelulusan, “Lebih dari itu justru mendidik moral dan karakter anak-anak, terutama soal kejujuran,” ujar Arief.
Kasus mencontek massal yang dilakukan saat Ujian Nasional di SDN Gadel II Surabaya merupakan kasus ketidakjujuran yang dilakukan oleh pihak sekolah, dalam hal ini guru. Parahnya sekolah yang diharapkan menjadi benteng bagi perkembangan karakter dan moral anak bangsa justru dinodai sendiri oleh para pendidiknya. Saat ini pemerintah sedang mencari jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Kabar yang beredar kini adalah sebanyak 60 siswa kelas 6 SDN Gadel II Surabaya akan mengikuti Ujian Nasional ulang. Namun hal ini dibantah oleh Mendiknas, Muhammad Nuh karena murid tidak bersalah, yang perlu dihukum adalah oknum yang bersangkutan.
Kejujuran sangatlah penting ditanamkan oleh pihak sekolah kepada siswa-siswanya. Hal itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya membuat program Warung Kejujuran yang aktivitas jual-belinya dilakukan dengan cara mandiri, yaitu siswa dapat mengambil sendiri jajanan yang disajikan diwarung dan membayarnya sendiri pula pada kotak yang telah disediakan di warung. Program ini sebenarnya telah diterapkan dibeberapa sekolah di Jakarta, seperti SMPN 86, SMPN 72, dan seebagainya. Dengan begitu, siswa pun dapat menanamkan dalam dirinya sikap kejujuran. Lebih jauh lagi program Warung Kejujuran itu pun dapat menjadi cara yang paling efektif dalam pembelajaran untuk pencegahan korupsi menurut Andy Syahrandy, salah satu pendiri Indonesia Corruption Watch (ICW) saat ditemui Johan Aristya Lesmana di kediamannya di kompelks perumahan Cirendeu, Cipuat(12/6). (JOHAN ARISTYA LESMANA).
Ketidakjujuran telah menjadi masalah yang sangat mengkhawatirkan di negeri ini, bahkan meracuni anak-anak. Padahal anak-anak di jenjang pendidikan dasar sebenarnya menjadi harapan untuk memperbaiki masa depan bangsa Indonesia yang kini sedang diterpa krisis moral dan karakter.
Untuk memperbaiki moral dan karakter bangsa ini, sudah saatnya kejujuran berperan penting menjadi budaya yang ditanamkan sejak dini. Demikian disampaikan pakar pendidikan Arief Rahman di Jakarta, Rabu (15/6). Ia menanggapi kasus terungkapnya kecurangan Ujian Nasional di SDN Gadel II Surabaya. Menurutnya sekolah semestinya bukan hanya sekedar tempat transfer ilmu serta mengejar target kelulusan, “Lebih dari itu justru mendidik moral dan karakter anak-anak, terutama soal kejujuran,” ujar Arief.
Kasus mencontek massal yang dilakukan saat Ujian Nasional di SDN Gadel II Surabaya merupakan kasus ketidakjujuran yang dilakukan oleh pihak sekolah, dalam hal ini guru. Parahnya sekolah yang diharapkan menjadi benteng bagi perkembangan karakter dan moral anak bangsa justru dinodai sendiri oleh para pendidiknya. Saat ini pemerintah sedang mencari jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Kabar yang beredar kini adalah sebanyak 60 siswa kelas 6 SDN Gadel II Surabaya akan mengikuti Ujian Nasional ulang. Namun hal ini dibantah oleh Mendiknas, Muhammad Nuh karena murid tidak bersalah, yang perlu dihukum adalah oknum yang bersangkutan.
Kejujuran sangatlah penting ditanamkan oleh pihak sekolah kepada siswa-siswanya. Hal itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya membuat program Warung Kejujuran yang aktivitas jual-belinya dilakukan dengan cara mandiri, yaitu siswa dapat mengambil sendiri jajanan yang disajikan diwarung dan membayarnya sendiri pula pada kotak yang telah disediakan di warung. Program ini sebenarnya telah diterapkan dibeberapa sekolah di Jakarta, seperti SMPN 86, SMPN 72, dan seebagainya. Dengan begitu, siswa pun dapat menanamkan dalam dirinya sikap kejujuran. Lebih jauh lagi program Warung Kejujuran itu pun dapat menjadi cara yang paling efektif dalam pembelajaran untuk pencegahan korupsi menurut Andy Syahrandy, salah satu pendiri Indonesia Corruption Watch (ICW) saat ditemui Johan Aristya Lesmana di kediamannya di kompelks perumahan Cirendeu, Cipuat(12/6). (JOHAN ARISTYA LESMANA).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar