Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan
mengenal sejarah perjuangannya. Pepatah itu merupakan kearifan terhadap
perjuangan para pendahulu dan gejolak kebangsaan zaman itu. Problematika bangsa
yang sarat dengan kebijakan yang tak berpihak pada rakyat merupakan penistaan
pada sejarah perjuangn bangsa, karena sudah menodai kearifan ruh perjuangan yang
dianugerahkan para pahlawan bangsa untuk kemerdekaan rakyat yang seutuhnya. Maka
arus kenaikan BBM yang dicanangkan pemerintah pekan lalu merupakan dosa sejarah
baru yang menjadi catatan kelam bangsa ini. Bahwa ini membuktikan betapa tidak
berdayanya para pemangku kepentingan negeri ini untuk mengatasi problematika
yang timbul di tengah-tengah krisis multidimensional.
Dalam rangka penyelamatkan APBN negara, pemerintah mesti
kreatif-transformatif untuk menemukan ide-ide yang invatif untuk mempertahankan
perekonomian negara, bukan hanya bertumpu pada satu sektor krusial saja seperti
BBM. Jika diamati lebih lanjut, publikasi terkait kenaikan BBM secara
besar-besaran akan menimbulkan pretensi negatif untuk para pemerintahan itu
sendiri, pasalnya kenaikan BBM seringkali dikaitkan dengan permainan politik
yang memoroskan strategi pada pengalihan isu dan pencitraan pada suatu orang,
golongan atau institusi tertentu. Jelas pemberitaan seperti ini melenceng jauh
dari ruh perjuangan bangsa. Maka dari itu, perlu adanya suplemen untuk
meningkatkan daya terobosan yang kreatif-transformatif untuk memajukan bangsa,
misalnya dengan kemandirian energi—dalam hal kenaikan harga BBM.
Negeri ini menyimpan banyak manusia yang pintar, cerdas,
dan profesional. Namun, potensi mereka belum dimaksimalkan untuk sebaik-baik
keperluan bangsa secara makro. Spirit untuk membangun kesadaran yang kini mesti
menjadi titik tekan untuk memberikan secercah perubahan dalam menangani
problematika bangsa, bukan sumpah serapah para pejabat yang merupakan seruan
penistaan terhadap rakyat. Bumi pertiwi ini tak layak untuk menangis kesekian
kalinya, cukup, hapukan sekarang juga unsur-unsur penjilat, ketiranian,
penistaan terhadap bangsa yang begitu makmur ini. Berikan ruang hijau bagi
harapan rakyat untuk menghirup masa depan di negeri tercinta Indonesia.
Berangkat dari fenomena tersebut di atas, maka BKPRMI
mengajak semua elemen untuk duduk bersama membincangkan arah kemajuan bangsa
setelah tertundanya kenaikan harga BBM yang sempat menjadi isu besar tentang
sebuah bangsa yang gagal. Kegiatan ini merupakan bentuk dari kepedulian BKPRMI
terhadap gejolak bangsa yang kian hari kian rumit untuk dipecahkan. Dari
Seminar Nasional dengan tema “Quo Vadis Kebijakan Kenaikan Harga BBM” ini
diharapkan banyak para pemuda khususnya dapat mengagendakan perubahan bangsa
yang maju dan bisa menyejahterakan rakyatnya. (Johan Aristya Lesmana)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar