Minggu, 08 April 2012

Quo Vadis Kebijakan Kenaikan Harga BBM


Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan mengenal sejarah perjuangannya. Pepatah itu merupakan kearifan terhadap perjuangan para pendahulu dan gejolak kebangsaan zaman itu. Problematika bangsa yang sarat dengan kebijakan yang tak berpihak pada rakyat merupakan penistaan pada sejarah perjuangn bangsa, karena sudah menodai kearifan ruh perjuangan yang dianugerahkan para pahlawan bangsa untuk kemerdekaan rakyat yang seutuhnya. Maka arus kenaikan BBM yang dicanangkan pemerintah pekan lalu merupakan dosa sejarah baru yang menjadi catatan kelam bangsa ini. Bahwa ini membuktikan betapa tidak berdayanya para pemangku kepentingan negeri ini untuk mengatasi problematika yang timbul di tengah-tengah krisis multidimensional.
Dalam rangka penyelamatkan APBN negara, pemerintah mesti kreatif-transformatif untuk menemukan ide-ide yang invatif untuk mempertahankan perekonomian negara, bukan hanya bertumpu pada satu sektor krusial saja seperti BBM. Jika diamati lebih lanjut, publikasi terkait kenaikan BBM secara besar-besaran akan menimbulkan pretensi negatif untuk para pemerintahan itu sendiri, pasalnya kenaikan BBM seringkali dikaitkan dengan permainan politik yang memoroskan strategi pada pengalihan isu dan pencitraan pada suatu orang, golongan atau institusi tertentu. Jelas pemberitaan seperti ini melenceng jauh dari ruh perjuangan bangsa. Maka dari itu, perlu adanya suplemen untuk meningkatkan daya terobosan yang kreatif-transformatif untuk memajukan bangsa, misalnya dengan kemandirian energi—dalam hal kenaikan harga BBM.
Negeri ini menyimpan banyak manusia yang pintar, cerdas, dan profesional. Namun, potensi mereka belum dimaksimalkan untuk sebaik-baik keperluan bangsa secara makro. Spirit untuk membangun kesadaran yang kini mesti menjadi titik tekan untuk memberikan secercah perubahan dalam menangani problematika bangsa, bukan sumpah serapah para pejabat yang merupakan seruan penistaan terhadap rakyat. Bumi pertiwi ini tak layak untuk menangis kesekian kalinya, cukup, hapukan sekarang juga unsur-unsur penjilat, ketiranian, penistaan terhadap bangsa yang begitu makmur ini. Berikan ruang hijau bagi harapan rakyat untuk menghirup masa depan di negeri tercinta Indonesia.
Berangkat dari fenomena tersebut di atas, maka BKPRMI mengajak semua elemen untuk duduk bersama membincangkan arah kemajuan bangsa setelah tertundanya kenaikan harga BBM yang sempat menjadi isu besar tentang sebuah bangsa yang gagal. Kegiatan ini merupakan bentuk dari kepedulian BKPRMI terhadap gejolak bangsa yang kian hari kian rumit untuk dipecahkan. Dari Seminar Nasional dengan tema “Quo Vadis Kebijakan Kenaikan Harga BBM” ini diharapkan banyak para pemuda khususnya dapat mengagendakan perubahan bangsa yang maju dan bisa menyejahterakan rakyatnya. (Johan Aristya Lesmana)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar