Senin, 02 April 2012

MENGGAGAS PARADIGMA KEJUANGAN MAHASISWA

“MENGGAGAS PARADIGMA KEILMUAN DALAM KEBERSAMAAN: Reaktualisasi Nilai Perjuangan Mahasiswa dalam Mempertegas Etos Intelektual”[1]
                                                               Oleh: Johan Aristya Lesmana_

Kebersamaan merupakan karya agung dari sejarah yang harus manusia jaga. Hingga senja kebersamaan akan terus menjadi barometer persatuan kehidupan. Dalam goresan budaya yang tak akan pernah habis, kebersamaan telah menjelma sebagai kekuatan yang mengantarkan pada perubahan. Pada banyak kasus, kehidupan manusia merupakan hal yang paling fundamen sebagai pijakan kaki Tuhan untuk menyempurnakan ciptaannya di alam semesta ini. kekhalifahan manusia telah mengantarkan sebuah telaah dialektika peradaban yang panjang dalam penyejarahannya. Oleh karenanya perlu diskursus yang membidanginya, agar proyek kekuasaan atas hak manusia tidak absurd. Begitu juga pada kesempatan untuk berpartisipasi menciptakan kebaikan bagi semesta alam.
Sejatinya makhluk sosial yang mengidamkan keteraturan keberagaman pada habitatnya, manusia senantiasa tunduk pada keniscayaan-kenisayaan sejarah yang telah dipercayainya sebagai suatu kekuatan transendental yang tak terjangkau oleh segenap kemampuannya.  Disamping itu  manusia bertanggung jawab penuh atas kestabilan kosmik yang akan mengantarkan pada sebuah keseimbangan ruh sosialnya sebagai rahmat bagi semesta alam.
Ketika kita menyadari telah sampai pada sebuah perbincangan panjang tentang sebuah kerukunan dalam atmosfer kebersamaan, telah saatnya lah kita mengkaji  azas perjuangan dan azas manfaat yang pada banyak hal telah menjadi unsur definitif dari kebersamaan. Menyoal kebersamaan yang telah dan akan terus kita bina sebagai anugerah yang agung, atribut khalifah di bumi  merupakan hal yang perlu disadari oleh hati setiap pemakainya. Maka dari itu, perlu sebuah konsepsi dasar yang memayunginya. Adalah kedua azas diatas yang coba kita terjemahkan sebagai sebuah konsepsi dominan dari setiap langkah hidup kita.

Nilai Perjuangan
Pencapaian amat bergantung pada sebuah perjuangan. Jika difilosofikan, kalimat berikut mengandung kekuatan afirmatif yang tinggi, dimana perjuangan merupakan penegasan bagi sebuah pencapaian. Menelisik realita ciputat hari ini, amat satir jika kita pautkan pada romantisme sejarah. Dimana ciputat telah menggoreskan sejarah intelektual dalam percaturan global. Mengenal ciputat, maka kita teringat karakternya, yaitu karakter intelektual yang membudaya. Ruh ini yang mengantarkan ciputat sebagai pusat peradaban pembaruan pemikiran Islam di Indonesia. Namun, kini semua hanya ratapan romantisme sejarah yang hilang entah kemana.  Melintasi ciputat saat ini bukan lagi melihat titik perkumpulan diskusi, tapi sebuah berubah menjadi budaya hedonism yang gagah membusung yang menjadikan budaya intelektual lusuh tak berdaya.
Titik pergolakan perubahan sosial ini yang kemudian menjadi landasan perjuangan kita sebagai insan yang berlabuh di ciputat. Perjuangan yang perlu menemukan kembali ruh intelektual yang dilahap zaman tak bersahabat. Butuh pengerahan segenap gagasan yang konstruktif untuk dapat menggali karakter mulia yang terkubur amat dalam oleh tanah hedonism. Sebagai khalifah yang terus rindu akan kebaikan di bumi, tentu butuh nilai-nilai yang berporoskan pada perjuangan. Ini yang kemudian menjadi pijakan kita untuk melangkah menuai sebuah pencapaian beratribut perubahan yang dicitakan.
Cita-cita akan sebuah perubahan sudah lama bergaung, namun akan selalu kandas tanpa adanya perjuangan secara massif. Maka dari itu perlu adanya gagasan untuk membentuk sebuah komunitas intelektual yang bergerak dibidang transformasi kebudayaan di kalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Adalah hal yang niscaya jika kemudian kounitas ini menjadi langkah awal untuk menggagas sebuah perubahan. Dengan semangat kebersamaan akan kita wujudkan sekapur sirih paradigma perjuangan yang ideal bagi sebuah perubahan yang dicitakan.


Titik Awal Perubahan Tercipta
Dialektika berkepanjangan mengenai sebuah perubahan telah mewacana pada masyarakat global. Beberapa terobosan sudah banyak menjebol akan sebuah perubahan. Namun, perubahan yang dicitakan bersama masih dalam perjalanan panjang paradigm manusia.  Kerinduan akan terbinanya Insan akademis, pencipta, dan pengabdi  yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhai Allah SWT, serta terciptanya suasana persaudaraan universal yang sejahtera merupakan titik awal perjuangan untuk sebuah perubahan yang dicitakan. Dalam mewujudkan tujuan mulia ini, maka, Departemen Litbang dan Keilmuan Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (BEMJ-PBSI) UIN Jakarta dalam kesempatan penuh semangat perubahan ini meluncurkan sebuah komunitas kajian LESEHAN ILMIAH. Memiliki visi sebagai pembawa pesan perubahan di kalangan mahasiswa Jurusan PBSI. Dengan visi terbinanya kebersamaan dengan semangat perubahan dan misi mengaktualisasikan kembali budaya intelektual mahasiswa, LESEHAN ILMIAH diharapkan menjadi sarang para penggagas perubahan. Diharapkan komunitas ini  menjadi lingkungan serta masyarakat belajar (Community Learning) yang berwawasan intelektual dan jangkauan ilmiah yang transformatif. Mari kita bersama menjaga dan memajukan LESEHAN ILMIAH sebagai sarana pengembangan diri. Yakin Usaha Sampai.



_Johan Aristya Lesmana hadir di bumi pada 16 Juli 1989. Setelah perjalanan panjang berkelana pada lembaga pendidikan, ia kini menjatuhkan dirinya di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FITK UIN Syarif Hidayatullah Ciputat. Selain itu ia juga sedang mengabdi pada beberapa komunitas strategis dalam percaturan nasional, yaitu sebagai Ketua Umum kaderisasi HMI Komisariat Tarbiyah Cabang Ciputat 2010-2011 dan Ketua Koordinator Wilayah (Korwil) Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia (IMABSII) Wilayah II Pulau Jawa Periode 2010-2012. Disamping itu ia bergerak pada beberapa komunitas pengembangan intelektual. Karya yang terus digarap ialah membina cinta, menebar harapan, dan mengabdi sepenuh hati pada Tuhan dan makhluk sekitar.


[1] Tulisan ini disampaikan pada Launching komunitas LESEHAN ILMIAH Dept.Litbang & Keilmuan BEMJ-PBSI Periode 2010-2011. Jumat, 22 Oktober 2010 di Teater Lt.1 FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar