ASTRONOMI
PENDAHULUAN
Alam semesta dipahami manusia melalui sifatnya yang mampu diinderakan. Pemahaman sifat alam semesta lebih banyak dilakukan melalui media visual dikarenakan informasi melalui visual jauh lebih cepat, lebih mudah, dan lebih banyak dicerna manusia. Pemanfaatannya juga telah dilakukan sejak manusia pertama muncul di muka bumi.
Pemahaman alam semesta menggunakan visual kini telah menggunakan berbagai media seperti lensa, kaca, dll. Dengan menggunakan medium tersebut, sifat – sifat alam perlahan bisa diketahui. Namun sifat alam sangatlah kompleks, tidak sesederhana yang bisa tercerna oleh mata secara langsung. Hal ini membuat perkembangan medium dalam menyaksikan sifat – sifat alam semakin berkembang. Dari tadinya mata telanjang, teropong, teleskop, mikroskop, dll. Masing – masing perangkat memiliki kegunaan yang berbeda. Untuk mengidentifikasi sifat – sifat alam yang berada di luar bumi, digunakan teleskop sebagai perangkat penting.
Kini, penggunaan medium tersebut telah merambah kepada sifat – sifat benda tak tampak yaitu gelombang. Alam berisikan gelombang elektromagnetik yang berkeliaran memancar sesuai sifat alamiah yang dimilikinya, termasuk benda – benda di luar bumi. Mata kita takkan mampu melihat gelombang elektromagnetik menggunakan mata telanjang. Oleh karena itu dibutuhkan perangkat yang mampu menangkap gelombang elektromagnetik dan mampu menampilkannya sehingga bisa disaksikan oleh mata telanjang manusia.
Dikarenakan sifat benda – benda alam yang memancarkan gelombang elektromagnetik dengan panjang frekuensi tertentu, para penikmat ilmu pengetahuan menciptakan perangkat yang mampu digunakan untuk menangkap sifat gelombang yang berasal dari benda – benda alam.
PEMBAHASAN
A. Ilmu Pengamatan Benda Langit (Astronomi)
Astronomi, yang secara etimologi berarti "ilmu bintang" (dari Yunani: άστρο, + νόμος), adalah ilmu yang melibatkan pengamatan dan penjelasan kejadian yang terjadi di luar Bumi dan atmosfernya. Ilmu ini mempelajari asal-usul, evolusi, sifat fisik dan kimiawi benda-benda yang bisa dilihat di langit (dan di luar Bumi), juga proses yang melibatkan mereka.
Selama sebagian abad ke-20, astronomi dianggap terpilah menjadi astrometri, mekanika langit, dan astrofisika. Status tinggi sekarang yang dimiliki astrofisika bisa tercermin dalam nama jurusan universitas dan institut yang dilibatkan di penelitian astronomis: yang paling tua adalah tanpa kecuali bagian 'Astronomi' dan institut, yang paling baru cenderung memasukkan astrofisika di nama mereka, kadang-kadang mengeluarkan kata astronomi, untuk menekankan sifat penelitiannya. Selanjutnya, penelitian astrofisika, secara khususnya astrofisika teoretis, bisa dilakukan oleh orang yang berlatar belakang ilmu fisika atau matematika daripada astronomi.
Astronomi adalah salah satu di antara sedikit ilmu pengetahuan di mana amatir masih memainkan peran aktif, khususnya dalam hal penemuan dan pengamatan fenomena sementara. Astronomi jangan dikelirukan dengan astrologi, ilmu semu yang mengasumsikan bahwa takdir manusia dapat dikaitkan dengan letak benda-benda astronomis di langit. Meskipun memiliki asal-muasal yang sama, kedua bidang ini sangat berbeda; astronom menggunakan metode ilmiah, sedangkan astrolog tidak.
B. Observatorium
Observatorium adalah sebuah lokasi dengan perlengkapan yang diletakkan secara permanen agar dapat melihat langit dan peristiwa yang berhubungan dengan angkasa. Menurut sejarah, observatorium bisa sesederhana sextant (untuk mengukur jarak di antara bintang) sampai sekompleks Stonehenge (untuk mengukur musim lewat posisi matahari terbit dan terbenam). Observatorium modern biasanya berisi satu atau lebih teleskop yang terpasang secara permanen yang berada dalam gedung dengan kubah yang berputar atau yang dapat dilepaskan. Dalam dua dasawarsa terakhir, banyak observatorium luar angkasa sudah diluncurkan, memperkenalkan penggunaan baru istilah ini.
Salah satu observatorium terkenal di Indonesia adalah Observatorium Bosscha, merupakan salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia. Observatorium Bosscha berlokasi di Lembang, Jawa Barat, sekitar 15 km di bagian utara Kota Bandung dengan koordinat geografis 107° 36' Bujur Timur dan 6° 49' Lintang Selatan. Tempat ini berdiri di atas tanah seluas 6 hektare, dan berada pada ketinggian 1310 meter di atas permukaan laut atau pada ketinggian 630 m dari plato Bandung. Kode observatorium Persatuan Astronomi Internasional untuk observatorium Bosscha adalah 299.
Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Pada rapat pertama NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Dan di dalam rapat itulah, Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar, bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini.
Pembangunan observatorium ini sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1928. Publikasi internasional pertama Observatorium Bosscha dilakukan pada tahun 1933. Namun kemudian observasi terpaksa dihentikan dikarenakan sedang berkecamuknya Perang Dunia II. Setelah perang usai, dilakukan renovasi besar-besaran pada observatorium ini karena kerusakan akibat perang hingga akhirnya observatorium dapat beroperasi dengan normal kembali. Kemudian pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosscha kemudian menjadi bagian dari ITB. Dan sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia.
C. Prinsip-Prinsip Optik
Optika adalah cabang fisika yang menggambarkan perilaku dan sifat cahaya dan interaksi cahaya dengan materi. Optika menerangkan dan diwarnai oleh gejala optis. Kata optik berasal dari bahasa Latin ὀπτική, yang berarti tampilan. Bidang optika biasanya menggambarkan sifat cahaya tampak, inframerah dan ultraviolet; tetapi karena cahaya adalah gelombang elektromagnetik, gejala yang sama juga terjadi di sinar-X, gelombang mikro, gelombang radio, dan bentuk lain dari radiasi elektromagnetik dan juga gejala serupa seperti pada sorotan partikel muatan (charged beam). Optik secara umum dapat dianggap sebagai bagian dari keelektromagnetan. Beberapa gejala optis bergantung pada sifat kuantum cahaya yang terkait dengan beberapa bidang optika hingga mekanika kuantum. Dalam prakteknya, kebanyakan dari gejala optis dapat dihitung dengan menggunakan sifat elektromagnetik dari cahaya, seperti yang dijelaskan oleh persamaan Maxwell.
Bidang optika memiliki identitas, masyarakat, dan konferensinya sendiri. Aspek keilmuannya sering disebut ilmu optik atau fisika optik. Ilmu optik terapan sering disebut rekayasa optik. Aplikasi dari rekayasa optik yang terkait khusus dengan sistem iluminasi (iluminasi) disebut rekayasa pencahayaan. Setiap disiplin cenderung sedikit berbeda dalam aplikasi, keterampilan teknis, fokus, dan afiliasi profesionalnya. Inovasi lebih baru dalam rekayasa optik sering dikategorikan sebagai fotonika atau optoelektronika. Batas-batas antara bidang ini dan "optik" sering tidak jelas, dan istilah yang digunakan berbeda di berbagai belahan dunia dan dalam berbagai bidang industri.
Karena aplikasi yang luas dari ilmu "cahaya" untuk aplikasi dunia nyata, bidang ilmu optika dan rekayasa optik cenderung sangat lintas disiplin. Ilmu optika merupakan bagian dari berbagai disiplin terkait termasuk elektro, fisika, psikologi, kedokteran (khususnya optalmologi dan optometri), dan lain-lain. Selain itu, penjelasan yang paling lengkap tentang perilaku optis, seperti dijelaskan dalam fisika, tidak selalu rumit untuk kebanyakan masalah, jadi model sederhana dapat digunakan. Model sederhana ini cukup untuk menjelaskan sebagian gejala optis serta mengabaikan perilaku yang tidak relevan dan / atau tidak terdeteksi pada suatu sistem.
Cermin dan lensa serta prinsip kerjanya memberikan sarana pemahaman bagi pemanfaatannya untuk mempermudah dan membantu kehidupan manusia. Alat-alat yang bekerja berdasarkan prinsip optik (cermin dan lensa) digolongkan sebagai alat optik.
D. Teleskop Optik
Sebuah teleskop optik adalah alat yang dapat membuat objek yang jauh tampak lebih dekat. Untuk membuat ini mungkin, suatu teleskop optik menggunakan dua potong berikut instrumen, yaitu tujuan lensa atau cermin primer dan lensa mata lensa. Teleskop optik njiga merupakan teleskop yang bekerja pada panjang gelombang tampak. Teleskop optik adalah jenis teleskop pertama yang dibuat manusia (seperti yang dibuat oleh Galileo, Newton, Foucault, Hale, Meinel, dan lainnya) . Selain teleskop radio, teleskop optik adalah jenis lain teleskop yang dapat dibangun di permukaan Bumi, karena adanya jendela radio dan jendela optik pada atmosfer Bumi yang mengijinkan radiasi elektromagnet pada panjang gelombang tersebut menembus atmosfer Bumi. Teleskop jenis lain harus diletakkan di luar atmosfer Bumi untuk dapat mendeteksi obyek-obyek langit pada panjang gelombang lain.
Gambar 1. Hubble Space Telescope mengorbit di atas bumi.
Kemampuan untuk teleskop untuk mengumpulkan cahaya berhubungan dengan diameter lensa atau cermin digunakan. Hal ini juga sering disebut sebagai aperture. Tujuan utama dari aperture adalah untuk mengumpulkan cahaya. Secara umum, semakin besar aperture akan menghasilkan gambar akhir lebih cerah, karena ada peningkatan jumlah cahaya bagi teleskop untuk mengumpulkan.
Pembesaran teleskop tergantung pada kombinasi lensa yang digunakan. Pembesaran teleskop dilakukan oleh lensa lensa mata. Lensa lensa mata menangkap cahaya terang dari fokus cermin primer atau dari lensa objektif dan memperbesar atau menyebar keluar atas etina mata pengamat. Akibatnya, muncul gambar besar untuk pengamat. Dengan menggabungkan lensa objektif atau cermin utama dengan lensa mata, teleskop lahir.
Ada tiga jenis utama teleskop optik:
1. Teleskop Refraktor
Teleskop Refraktor atau pembias teleskop menggunakan lensa kaca cembung untuk membiaskan atau membelokkan cahaya dan membawa cahaya ke dalam fokus. Kaca lensa cembung ini sering disebut sebagai lensa objektif. Lensa cembung dirancang khusus untuk menjadi tebal di pusat dan tipis di tepi. Desain ini memungkinkan cahaya untuk menjadi bengkok satu titik fokus. Ini titik fokus adalah di mana foto tersebut dibuat.
Sayangnya, dua masalah utama yang berhubungan dengan pembiasan teleskop. Pertama, kekuatan lensa cembung diatur oleh ukuran lensa cembung. Ini juga akan mempengaruhi ukuran fisik dari teleskop. Selanjutnya, karena cahaya dibiaskan atau bengkok, gambar yang dihasilkan tidak selalu jelas.
2. Teleskop Reflektor
Alih-alih menggunakan lensa cembung untuk membiaskan cahaya, teleskop reflektor atau mencerminkan menggunakan cermin melengkung untuk mengumpulkan dan memfokuskan cahaya. cermin cekung besar digunakan untuk mengumpulkan dan memantulkan cahaya untuk menghasilkan gambar. cermin cekung dirancang sehingga bagian tertipis lensa terjadi di tengah lensa, kebalikan yang tepat untuk lensa cembung. Lensa lensa mata kemudian menyebar atau memperbesar foto terbentuk. Saat melihat benda gelap, mencerminkan teleskop sangat berguna.
3. Catadioptric Teleskop
Catadioptric teleskop dapat dianggap sebagai teleskop hibrida. Menggunakan kombinasi dari kedua lensa cembung dan cermin untuk memungkinkan rasio sangat cepat fokus. Desain paling terkenal teleskop catadioptric adalah:
Schmidt-Cassegrain Desain. Teleskop catadioptric pertama dikenal sebagai teleskop Schmidt. Di bagian belakang teleskop Schmidt adalah cermin primer, dan di bagian depan teleskop adalah piring korektor kaca. Tujuan dari pelat korektor kaca untuk menghilangkan aberasi bola. Desain Schmidt-Cassegrain adalah jenis teleskop yang paling populer untuk saat ini. Teleskop Schmidt-Cassegrain menggunakan cermin sekunder, yang bounce cahaya melalui sebuah lensa mata melalui lubang di cermin primer.
Teleskop Schmidt-Cassegrain menawarkan banyak keuntungan. Teleskop sangat portabel karena jalan cahaya dilipat. Hal ini memungkinkan tabung optik menjadi sangat pendek. Teleskop Schmidt-Cassegrain yang cocok untuk pengamatan planet maupun pengamatan langit mendalam karena optik nya.
Maksutov-Cassegrain desain, Jenis kedua teleskop catadioptric. Desain dari teleskop Maksutov mirip dengan teleskop Schmidt-Cassegrain. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa desain Maksutov menggunakan piring korektor meniskus atau lensa bukan dari piring korektor kaca. Teleskop Maksutov-Cassegrain juga melakukan pencitraan luar biasa di planet. Hal ini juga menggunakan secara ekstensif di ruang angkasa, militer dan aplikasi industri.
E. Teleskop Radio
Teleskop radio telah sering digunakan sejak akhir abad 20-an. Teleskop ini bekerja menangkap gelombang elektromagnetik yang berada pada daerah frekuensinya. Gelombang tersebut kemudian diolah menjadi sinyal digital yang mampu diinterpretasikan karakteristiknya. Melalui teleskop radio, sifat – sifat alam yang tak mampu ditemui oleh teleskop optik berhasil ditemukan. Salah satu pemanfaatan teleskop radio adalah pada pemetaan hidrogen netral. Melalui pemetaan ini banyak sekali sifat – sifat alam yang terungkap.
Beberapa jenis teleskop radio, diantaranya:
1. Square Kilometre Array (SKA)
Square Kilometre Array adalah sebuah sistem teleskop radio yang masih dalam tahap perencanaan. Sistem ini bertujuan untuk mencapai daerah penerimaan seluas satu kilometer persegi. Sistem ini direncanakan untuk beroperasi pada rentang frekuensi 0.10–25 GHz, dengan sasaran 0.06–35 GHz. Ukurannya yang besar membuatnya 50 kali lebih sensitif dibandingkan peralatan yang ada sekarang ini. SKA memungkinkan penggunaan oleh beberapa astronom dalam waktu bersamaan atau untuk mengamati wilayah langit yang berbeda sekaligus.
2. Very Large Array (VLA)
Very Large Array (VLA) adalah sebuah kompleks observatorium astronomi radio yang berlokasi di dataran tinggi San Augustin, di antara kota Magdalena dan Datil, sekitar 50 mil (80 km) sebelah barat Socorro, New Mexico, Amerika Serikat. VLA berada pada koordinat 34°04′43″LU,107°37′04″BB, di ketinggian 2.124 meter (6.970 kaki) di atas permukaan laut. Kompleks ini merupakan salah satu komponen dari National Radio Astronomy Observatory (NRAO).
Kompleks observatorium ini terdiri dari 27 buah antena radio yang masing-masing memiliki diameter 25 meter (82 kaki) dan berat 209 metrik ton. Antena-antena tersebut tersebar di tiga buah garis berbentuk-Y yang masing-masing memiliki panjang 21 km/13 mil. Masing-masing antena ini dapat dipindahkan ke berbagai posisi di sepanjang garis dengan menggunakan lokomotif khusus di atas rel di sepanjang garis berbentuk Y tersebut.
Ada empat macam konfigurasi antena, dari posisi A (terbesar) sampai posisi D (terkecil, ketika semua antena berada dalam radius 600 meter dari titik pusat). Observatorium normalnya akan memakai semua konfigurasi setiap 16 bulan, dengan kata lain setiap kali perubahan dilakukan terhadap posisi antena-antena tersebut, tidak akan ada lagi perubahan sampai tiga atau empat bulan berikutnya.
Pusat operasi VLA (AOC) terletak di kampus New Mexico Tech di Socorro. AOC juga menjadi pusat kontrol dari Very Long Baseline Array (VLBA), sebuah VLBI array yang terdiri dari sepuluh piringan berdiameter 25 meter yang tersebar dari Hawai'i di barat sampai Kepulauan Virgin Amerika Serikat di timur yang menjadikannya sebagai instrumen astronomi terbesar di dunia.
Teleskop yang sudah dibicarakan di atas dipakai pada daerah optik yang disebut daerah visual, yaitu daerah kasatmata yang tampak oleh mata. Sementara itu kita mengetahui bahwa cahaya sebenarnya terdiri atas berbagai panjang gelombang, di mana tiap-tiap panjang gelombang membawa energinya sendiri-sendiri. Besarnya energi yang dibawa pada setiap panjang gelombang tidak sama, tetapi berpuncak pada panjang gelombang tertentu. Panjang gelombang berapa yang memancarkan energi maksimal bergantung pada suhu objek tersebut, semakin tinggi suhunya semakin pendek panjang gelombangnya dan semakin biru warnanya. Tidak semua objek memancarkan energi maksimalnya pada daerah visual (daerah visual didefinisikan berada pada rentang panjang gelombang 380 – 750 nanometer. Satu nanometer sama dengan satu per semilyar meter). Banyak sekali objek yang memancarkan energi maksimalnya pada daerah ultraviolet (lebih pendek dari 300 nanometer) atau daerah inframerah (antara 750 nanometer hingga sekitar 1 mm), sehingga apabila kita mengamati objek-objek tersebut hanya pada daerah visual akan banyak sekali informasi yang tidak kita peroleh. Oleh karena itu diciptakan berbagai alat untuk dapat mendeteksi keseluruhan rentang energi gelombang elektromagnetik (Gambar 2), pada daerah-daerah ultraviolet, inframerah, dan radio.
Gambar 2. Spektrum radiasi elektromagnetik. Cahaya dapat kita andaikan sebagai radiasi elektromagnetik yang memancarkan energinya pada berbagai panjang gelombang. Beberapa rentang gelombang memiliki karakteristik yang berbeda. Sumber: Roy, A.E. dan Clarke, D. 1989, Astronomy: Principles and Practice, 3rd Ed. Adam Hilger. h.18.
Daerah panjang gelombang yang panjang, dalam skala beberapa mm hingga kurang lebih 20 m, adalah daerah yang disebut daerah radio. Pada daerah ini objek-objek yang memancarkan energinya dalam panjang gelombang radio dideteksi dengan menggunakan teleskop radio.
Gelombang radio dari objek-objek astronomi ditemukan pada tahun 1932, namun astronomi radio baru lahir dan berkembang setelah Perang Dunia II. Dengan menggunakan teknologi RADAR (Radio Detection and Ranging) yang dikembangkan pasukan sekutu untuk mendeteksi gerakan pasukan jerman, astronomi radio menjadi disiplin ilmu baru yang dibangun di atas teknologi perang. Seorang insinyur Bell Telephone Laboratory (perusahaan telekomunikasi yang didirikan oleh Alexander Graham Bell), Karl Jansky, pada tahun 1932 menguji antena radio baru yang dibangun sebagai sarana komunikasi trans-atlantik. Setiap hari ia mendapatkan sinyal radio tak dikenal yang memiliki periode 23 jam 56 menit, yang sangat cocok dengan periode sideris (waktu yang dibutuhkan sebuah bintang di langit untuk kembali ke tempatnya semula) Bumi. Jansky telah memperoleh sinyal dari langit, dari objek-objek radio di alam semesta. Sinyal-sinyal ini kemudian ditemukan berasal dari Bima Sakti dan paling kuat dalam arah Pusat Galaksi.
Gambar 3. Atas: Teleskop Radio Very Large Array (VLA) di Socorro, New Mexico, Amerika Serikat. VLA terdiri atas 27 buah piringan antena, masing-masing berdiameter 25 m. Setiap antena dapat digerakkan melalui rel untuk membentuk konfigurasi, seperti yang ditunjukkan pada gambar adalah konfigurasi berbentuk Y, dengan masing-masing lengan panjangnya 21 km. Sumber: Hoskin, M. (ed.) 1997, The Cambridge Illustrated History of Astronomy, Cambridge University Press. h.357. Bawah: Obervatorium Arecibo di Puerto Rico. Teleskop radio dengan diameter 305 m ini dibangun di atas sebuah cekungan alam. Teleskop ini tidak dapat digerakkan, sehingga daerah langit yang dapat diamati sangat terbatas. Sumber: Hoskin, M. (ed.) 1997, The Cambridge Illustrated History of Astronomy, Cambridge University Press. h.363.
Teknologi pendeteksian gelombang radio kemudian digunakan dalam Perang Dunia II. Setelah perang, ahli-ahli fisika yang mengembangkan teknologi ini kemudian menggunakan alat-alat yang mereka ciptakan dan keahlian mereka untuk membangun disiplin baru, astronomi radio. Antena radio pun dibangun untuk keperluan ini, dan kita pun mengenalnya sebagai ikon sains. Siapa yang tidak pernah melihat foto Teleskop Radio Very Large Array di New Mexico, Amerika Serikat, atau Telesko Radio Arecibo di Puerto Rico (Kalaupun belum, paling tidak setelah membaca artikel ini Anda pasti sudah melihatnya, karena fotonya saya pampang pada Gambar 8)?
Prinsip kerja teleskop radio persis sama dengan teleskop optik. Sinyal diterima oleh antena berbentuk mangkuk yang permukaannya berbentuk parabola. Sinyal kemudian difokuskan pada titik api mangkuk dan dari situ perangkat elektronik akan mengubah sinyal tersebut menjadi sinyal elektronik. Hasil yang diperoleh umumnya berupa peta kontur intensitas energi pada frekuesi tertentu. Gelombang radio terbukti sangat berjasa dalam studi Galaksi kita. Di sekitar matahari dan bintang-bintang terdapat awan gas dan debu yang kita namakan materi antar bintang dan seringkali awan-awan tebal ini menghalangi pengamatan optik, akibatnya penglihatan kita sangat terbatas apabila melakukan pengamatan dalam daerah optik karena cahaya dari objek-objek jauh yang redup tak dapat menembus awan ini. Namun gelombang radio dapat menembus awan ini, sebagaimana diprediksikan oleh astronom Belanda yang bermarkas di Observatorium Leiden, Jan Oort, yang kemudian mengundang muridnya, Henrik van de Hulst untuk menyelidiki lebih lanjut sifat-sifat gelombang radio yang dapat diharapkan.
Pada tahun 1945, van de Hulst menunjukkan bahwa pembalikan arah momentum sudut (spin) dari atom Hidrogen akan menghasilkan energi pada panjang gelombang 21 cm. Pembalikan ini merupakan kejadian yang sangat langka, hanya 1 kali dalam jutaan tahun. Akan tepati tetapi karena Hidrogen adalah unsur paling berlimpah di alam semesta ini, pasti akan ada banyak sekali fenomena pembalikan arah spin yang terjadi di Galaksi kita dan dapat dideteksi di Bumi.
Gambar 4. Diagram komposit yang menunjukkan struktur spiral Galaksi Bima Sakti. Di pusat diagram adalah pusat galaksi, ditandai oleh huruf C, dan posisi matahari berada di atasnya, ditandai oleh huruf S. Diagram ini merupakan peta kontur yang menunjukkan distribusi atom hidrogen netral di galaksi kita. Bagian gelap pada peta menunjukkan daerah-daerah padat atom hidrogen netral, yang mendefinisikan lengan Galaksi. Sumber: Hoskin, M. (ed.) 1997, The Cambridge Illustrated History of Astronomy, Cambridge University Press. h.353.
Dengan meggunakan antena peninggalan Jerman, grup Leiden berhasil membuktikan prediksi van de Hulst pada tahun 1951. Kerjasama antara Tim Belanda dengan Tim Australia kemudian berhasil memetakan intensitas energi dan kecepatan dari awan-awan Hidrogen ini. Dari hasil penelitian ini, kita berhasil memperoleh potret diri Galaksi kita (Gambar 9). Lengan-lengan spiral yang semula hanya hipotesis berdasarkan kenampakan galaksi lain kini berhasil dipetakan, membuktikan bahwa Galaksi kita adalah sebuah galaksi spiral.
Penelitian pada panjang gelombang radio kini digunakan untuk mempelajari sifat-sifat materi antar bintang dan benda-benda eksotis seperti pulsar (pulsating radio source, sumber radio berdenyut) dan quasar (quasi-stellar radio source, sumber radio menyerupai bintang). Tidak hanya itu, pengetahuan kita tentang struktur galaksi kita pun bertambah banyak berkat penelitian astoronomi radio ini.
PUSTAKA ACUAN
http://id.wikipedia.org/wiki/Teleskop_optik/12. January 2011 03:46
http://www.azooptics.com/article.aspx?ArticleID=81&lang=id
http://faridauliatanjung.wordpress.com/2009/02/24/teleskop-radio-heum/
http://langitselatan.com/2008/01/01/menuju-titik-api-teleskop-radio/
http://id.wikipedia.org/wiki/Teleskop
http://id.wikipedia.org/wiki/Observatorium_angkasa
Born, Max,Wolf, Emil. 1999 Principles of Optics. London: Pergamon Press.
Serway, Raymond A.; Jewett, John W. 2004. Physics for Scientists and Engineers. Brooks/Cole.
Tipler, Paul 2004. Physics for Scientists and Engineers: Electricity, Magnetism, Light, and Elementary Modern Physics. W. H. Freeman.
Lipson, Stephen G. 1995. Optical Physics. Cambridge University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar