Bangsa kembali bergejolak ketika kebijakan pemerintah
untuk menaikkan harga BBM dirasa tidak berpihak pada rakyat, pasalnya rakyat
kewalahan dengan tersudutkannya kaum miskin. Ini merupakan kesatiran dari
sebuah negeri yang masih minim tingkat perekonomiannya. Setelah demo
besar-besaran yang dilakukan oleh semua kalangan dari berbagai ormas dan
perbedaan pendapat antara wakil rakyat, akhirnya kenaikan harga BBM yang
tadinya dijadwalkan pada tanggal 1 April 2012 urung terjadi dengan syarat
pengunduran pada beberapa waktu ke depan.
Langkah menaikkan harga BBM memang belum dapat diterima
di kalangan masyarakat luas, maka pemerintah semestinya memiliki ide lain untuk
menyelamatkan APBN selain menaikkan harga BBM, karena masih banyak lagi hal yang
dapat membantu bobolnya APBN akibat subsidi BBM yang telah lama dijalankan.
Naiknya minyak di pasar dunia mengakibatkan carut-marutnya perekonomian
negara-negara yang pendapatan minyaknya hanya dari negara pengimpor dari timur
tengah. Hal ini kemudian menjadikan Indonesia memiliki kkekhawatiran berlebih
akan dampak krisis yang sebelumnya telah melanda negara-negara di Eropa.
Kenaikan BBM merupakan bukti suramnya kebijakan
pemerintah yang tega menumpahkan air mata ketidakberdayaan para rakyatnya. Maka
sebagai generasi penerus, mestinya dapat membasmi sindrom ketiranian tersebut.
Dalam hal ini, Institute of Society Development (ISDEV) mencoba menggagas
agenda strategis bangsa dengan mempublikasikan gagasan-gagasan perubahan yang
akan mengantarkan Indonesia gemilang. Gagasan perubahan itu dimulai dengan
Seminar Nasional dengan tema “Mengkaji Dampak Ditundanya Kenaikan Harga BBM.”
Kegiatan ini merupakan kepedulian kalangan pemuda akan
perubahan bangsa yang bijak terhadap harapan rakyat. Dalam dinamika demokrasi
yang kian sulit ditemukan arah tujuannya, maka perlu untuk menerobos batas
haluan zaman yang semakin bergerak dengan sporadis. Perjuangan para kaum muda
menjadi penentu keberlangsungan demokratisasi bangsa yang sehat dan dewasa.
Semoga....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar